Sabtu, 24 November 2012

PERKEMBANGAN MAI SENGKANG



 Tugas mandiri
Dosen pembimbing :
PERKEMBANGAN MAI SENGKANG


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
(STAI DDI PNRANG)
TAHUN AJARAN 2011-2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang masalah.
Organisasi merupakan suatu alat atau wadah kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dengan pola tertentu  yang perwujudannya memiliki kekayaan baik fisik maupun non fisik.
Di Indonesia sendiri banyak sekali jenis organisasi mulai dari organisasi bersifat politik seperti parpol, bahkan ada pula yang bersifat keagamaan seperti NU (Nahdatul Ulama), Muhammadiyah, Hisbuttahrir, FPI (Fron Pembela Islam), dan khusus di Sulawesi-selatan ada organisasi sosial keagamaan yang cukup besar dan cukup familiar di telinga masyarakat sulawesi-selatan sendiri yaitu DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) yang didirikan oleh K. H. Abd. Rahman Ambo Dalle bersama dengan ulama-ulama besar Sulawesi-selatan, yang akan menjadi pembahasan makalah penulis ini.
B.   Rumusan masalah.
Berdasarkan dari uraian singkat diatas maka yang akan menjadi garis besar pembahasan makalah penulis ini adalah sebagai berikut :
Bagaimana sejarah pendirian dan perjalanan organisasi DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad)?
















PERKEMBANGAN  MAI   SENGKANG

            Anregurutta  Haji  Muhammad   As’ad  wafat  pada  hari  senin  12  Rabiul  Akhir  1372 H  atau  29  Desember  1952  rsetelah  menderita  sakit  lama  tujuh  hari  .Untuk  menggantikannya  memimpin  MAI  Sengkang  ,tampillah  Anregurutta  Haji  Daud  Ismail, salah  seorang  murid  seniornya. Untuk  mengabadikan  nama  beliau, dalam   musyawarah MAI pada  tanggal  25  Sya’ban  1372 H  atau  9  Mei  1953  di  sepakati  untuk  mengganti  nama  Madrasah  Arabiyah  Islamiyah  (MAI)  Sengkang   menjadi  Madrasah  As’adiyah(MAI).
            Dalam  perkembangannya , Madrasah  As’adiyah  menjad i organisasi  yang menbina  madrasah  dan  pondok  pesantren  yang  berpusat   di  kota  sengkang, ibukota  Kabupaten  Wajo . Saat  ini , menurut  data   tahun  2003 , Pengurus  Besar  As’adiyah  yang  di pimpin oleh Prof.Dr. H.M Rafi’Yunus (hasil Muktamar  PB.As’adiyah  2003) membina 301 madrasah dan pondok pesantren yang tersebar pada dua belas Kabupaten Wajo (157 madrasah),Kabupaten Bone (58 madrasah), dan Kabupaten Soppeng  (20 madrasah).
            Sebenarnya, perkembangan As’adiyah sedikit lambat bila di bandingkan  dengan usianya. Hal itu tampaknya tidak terlepas dari kebijakan sentralisasi yang ditetapkan Anregurutta H.M.As’ad, semasa hidup ,Anregurutta As’ad tidak mengizinkan di dirikan madrasah di tempat lain  sebagai cabang dari madrasahnya. Beliau mengkhawatirkan kalau bayak cabang lalu tidak mampu mengntrolnya akan mengakibatkan rusaknya mutu madrasah yang di pimpinnya .Karena itu ,semasa hidup Anregurutta tidak ada cabang yang di buka. Penbukaan cabang di lakukan pasca kepemimpinanAnregurutta Haji Muhammad As’ad.
Anregurutta H.  M.  as’ad ; dari perkumpulan tablig ke MAI sengkang
Salah seorang ulama yang sangat besar peranannya dalam perkembangan pendidikan Islam di sulawesi selatan adalah Haji Muhammad As’ad bin Haji abdur Rasyid Al-bugisy beliau berasal dari wajo namun kakek dan orang tuanya adalah Ulama bugis yang bermukim di mekkah dan Haji Muhammad As’ad sendiri di lahirkan di mekkah pada tanggal 12 rabiustsani 1326 Hijriyah atau tahun 1907 miladiyah .
Tahun 1928, ketika berusia 21 tahun Haji muhammad As’ad kembali ke tanah leluhurnya di negeri  Wajo. Setiba di Sulawesi selatan beliu melihat berbagai perakti-peraktik dalam masyarakat yang sangat bertentangan dengan Akidah Islam seperti pen yembahan berhala dan pemberian sesajien kepada benda-benda yang di keramatkan . Maka, langkah awal yang di lakukanya untuk memerangi kemungkaran  itu adalah pembentukan perkupulan tablik yang beranggotakan murid-muridnya sendiri. Beliau sendiri sebagai ketuanya dan langsung memimpin jalanya jamaah tablik tersebut. Terkadang berjalan kaki, terkadang naik kendaraan dari kota ke dese-desa atau sebaliknya tanpa mengenal lelah.
Berkat ketekunan, ketegasan, dan kegigihan dalam waktu yang relatif singkat masyarakat meninggalkan perilaki-perilaku khurafat, syirik, dan kemungkaran lainya. Salah satu contoh adalah paham tentang bolehnya memfidyah salad. Suatu ketika Anregurutta H . M  . As’ad di undang menghadiri pemakaman salah seorang kerabat Arung Matoa Wajo ( Raja Wajo ) H .Andi  maddukkalleng. Saat itu beliau di tawari berkenang menerimah fidyahnya orang yang meninggal dunia dan semasa hidup meninggalkan salad . tawaran itu di tolaknya dan beliau menyampaikan bahwa salad itu tidak boleh di tidiyah padahal fidiyah it berupa emas dan uang tunai yang jumlahnya cukup banyak. Karna sikap tegasnya itu, paham yang mudah melekat pada masyarakat sulawesi selatan , khususnya di Wajo, akhirnya di tinngalkan masyarakat. Demikian juga tentang mengulang salad duhur sesudah salad jum’at yang banyak di lakukan masyarakat di daerah soppeng . dalam suatu pertemuan yang di hadiri oleh Datu Soppeng , beliau dengan tegas menyatakan bahwa tidak boleh mengulang salad duhur klo salad jum’atnya sah.
Keteguhan sikap Anregurutta H. M. As’ad juga tanpak ketika wafat ArungMatowa Wajo ke 47 Andi Oddang pero sebagian besar anak cucunya menghendaki agar orang tuanya di kuburkan di dalam mesjid jami ‘ Sengkang. Tetapi , Anregurutta melarang hal tersebut dan menyuruh supayah penggalian lian kubur di hentikan  . maralah orang yang melakukan penggalian dan mempertahankan kemauan keluarga Arung Matoa . Anregurutta tetap bertahan dengan sikapnya. Akhirnya di adakan musyawarah dengan keputusan bahwa Arung Matowa Wajo di kuburkan di luar ( di seblah barat ) Masjid jami.
Di samping itu , Haji Muhammad As’ad aktif memberikan pengajian dengan sistem halaka di rumahnya atau di mesjid titik berat mareri pelajaranya adalah pada masalah akhidah dan syariah . semakin lama pengajiannya itu di datangi oleh santri dari berbagai daerah hingga sistem halakah di anggap tidak cocok lagi. Karna itu , pada bulan mei 1930 beliu membuka sistem pendidikan pormal dalam bentuk madrasah atau sekolah di samping mesjid jami sengkang yang di beri nama madrasah arabiyah islamiyah (MAI). Dua tahun kemudian di bangun lah gedung sekolah permanen di samping kiri dan kanan mesjid jami sengkang, atas bantuan pemerintah kerajaan Wajo bersama toko Agama dan toko Masyarakat.
Dari lembaga pendidikan ini lahir lah sejumlah ulama, di antaranya: H . Abdu Rahman Ambo Dalle , Haji Daud Ismail, Haji Hobe , Haji Muhammad Yunus Maratan , Haji Muhammad Abduh pabbajah, Haji Muhammad Amberi Said, Haji   Junaid Sulaiman , Haji Muhammad Yusuf Hamzah, Haji Abdul Muin Yusuf, haji Muhammad Amind Nashir, Haji marzuki Hasan, dan lain-lain.
Para lepasan MAI Sengkang ini kemudian mendirikan pesantren di brbagai daerah . di antaranya : AG. H. Abdurahman Ambo Dalle mendirikan MAI Mangkoso lalu bersama AG. H. Daud ismail dan AG. H. M. Abduh Pabbajah mendirikan DDI .AG. H. Daud Ismail juga mendirikan pesantren Yasrip di wantang soppeng . AG. H. Junaid sulaiman mendirikan pesantren Ma’had Hadits di watang pone dan AG. H. Abd . Muin Yusuf mendirikan pesantren Al Urwatul Wutsqa di benteng Rappang dengan sistem pendidikan yang secara umum hampir sama , kecuali Haji marsuki Hasan yang mendirikan pesantren Darul Istikomah sistemnya agak berbeda dengan pesantren – pesantren  yang di sebut terdahulu.
Pemikiran Anre Gurutta Haji Muhammad As’ad dapat di baca pada buku-buku yang telah di tulisnya diantaranya: Idharul Hqiqah, berbahasa bugis , berisi ajaran akidah-akidah yang benar dan tidak benar (syirik) , Assiratun Nabawiyah (berbagasa arab dan bugis), Kitabul Aqaaid (berbahasa bugis), Kitabuzzakah (berbahasa bugis dan indonesia), dan lain-lainya.

Gurutta  H. M. As’ad; dari Perkembangan Tablik ke MAI Sengkang
            Salah seorang Ulama yang sangat besar peranannya dalam pengembangan pendidikan  Islam di Sulawesi Selatan adalah Haji Muhammad As’ad Bin Haji Abdul Rasyid AL-Bugisy. Blau brasal dari wajo namun kakek dan orang tuannya adalah ulama Bugis yang bermukim di Mekkah dan haji Muhammad As’sd adalah di lahirkan di Mekkah pada  tanggal 12 Rabiustsani 1329 Hijriah atau tahun 1907 Miladiah.
            Tahun 1928,ketika berusia 21 tahun Haji Muhammad As’sd kembal;I ke tana leluhurnya ke tanan wajo. Setiba di Sulawesi Selatan beliau melihat berbagai praktik-praktik dalam masyarakat yang sangat bertentangan dengan akidah Islam,seperti penyembahan brhala dan pemberian sesajen kepada benda-benda yang di keramatkan.
            Maka, langka awal yang di lakukannya untuk memerangi kemungkaran itu adalah membentuk perkumpulan tablik yang beranggotakan murid-muridnya. Beliau sendiri sebagai ketuanya dan langsung memimpin jalannya jamaah tablik tersebut. Terkadang berjalan kaki, terkadang naik kendaraan dari kota ke desa-desa atau sebaliknya tampa mengenal lalah.
            Berkat ketekunan, keregasan. Dan kegigihannya dalam waktu yang relatif singkat masyarakat meninggal perilaku-perilaku khurafat, syirik, dan kemungkaran lainnya. Salah satu contoh adalah faham tentang bolehnya memfidyah salat. Suatu ketika Anregurutta H.M.As’sd di undang menghadiri salah stu pemakaman salah seorang ketabat Arung Matoa Wajo ( raja wajo) Haji Andi Madukkelleng. Saat itu beliau di tawari agar berkenag         


MAI  SENGKANG
Salah satu lembaga pendidikan tertua di Sulawesi Selatan yang dikenal luas di Indonesia adalah Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) di Sengkang Kabupaten Wajo yang didirikan bersetuju dengan bulan Zulkaidah 1348 H, yang bertepatan dengan bulan Mei 1930 M, oleh K. H. Muh. As’ad yang baru saja kembali dari Mekah pada tahun 1928. Pendidikan formal terakhir yang diikuti beliau di Mekah adalah di Madrasah Al-Falah.
Pada awal mulanya MAI Sengkang hanya merupakan pengajian dengan sistem mengaji tu’dang yang diadakan dirumah K. H. Muh As’ad, yang oleh penduduk setempat dan murid-muridnya, hingga kini, menyebutnya Anregurutta Sade. Menyusul yang santrinya yang semakin bertambah banyak, maka tempat pengajiannya pun dipindahkan ke Masjid Jami Sengkang. Walaupun mengaji tu’dang masih berlanjut, seiring dengan berkembangnya jumlah santri yang tidak tertampung lagi maka didirikan lembaga pendidikan madrasah dengan sistem klasikal, yang oleh K. H. Muh. As’ad pengorganisasiannya dipercayakan kepada salah seorang ustadz dan sekaligus murid kepercayaannya, yang kemudian juga terkenal sebagai ulama besar Indonesia yang berasal dari Sulawesi Selatan, yakni K. H. Abd. Rahman Ambo Dalle.
Selama MAI Sengkang masih dibawah kepemimpinan K. H. Muh. As’ad tidak ada perluasan ekspansi wilayah. Beliau tidak membenarkan adanya pendirian MAI di tempat lain, baik sebagai cabang ataupun sebagai filial. Dampak dari kebijakan ini adalah semua santri yang ingin memperoleh ilmu dari K. H. Muh. As’ad harus datang ke Sengkang dan mondok di MAI Sengkang. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran beliau akan sulitnya mengendalikan cabang-cabang, menjaga standar mutu pendidikan, dan nantinya akan mempengaruhi citra MAI Sengkang secara keseluruhan. Beliau tidak pernah khawatir akan kekurangan santri, seandainya dibuka kesempatan mendirikan cabang atau filial di luar Sengkang sekalipun.
Berkat pembinaan yang dilakukan oleh K. H. Muh. As’ad, maka MAI Sengkang inilah lahir ulama tokoh pendidik Islam Sulawesi Selatan yang terkemuka, seperti : K. H. Muhammad Daud Ismail, K. H. Muh. Abduh Pabbajah, K. H. Muhammad Yunus Maratan, K. H. Muhammad Yusuf Hamzah, K. H. Abdul Muin Yusuf, K. H. Muhammad Amberi Said, K. H. Djunaid Sulaiman, K. H. Muhammad Amin Nashir, K. H. Marzuki Hasan dan tentunya K. H. Abd. Rahman Ambo Dalle. Kesemuanya ini adalah merupakan santri angkatan pertama dari K. H. Muh. As’ad.
Hanya saja pembinaan langsung, yang dilakukan oleh K. H. Muh. As’ad kepada santri-santri MAI Sengkang tidak begitu lama, karena Tuhan telah memanggil beliau masih dalam usia yang relatif muda, 45 Tahun. Beliau wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 1372 H bertepatan dengan 29 Desember 1952 M. atau dua tahun setelah Sulawesi Selatan melepaskan diri dari pemerintahan Negara Indonesia Timur (NIT) buatan belanda bersama dengan wilayah-wilayah Indonesia lainnya melalui konferensi Meja Bundar di Belanda pada bulan November – Desember 1949, kecuali Irian Barat yang nanti diintegrasi Republik Indonesia pada tahun 1962.
Untuk mengenang jasa-jasa K. H. Muh. As’ad, tokoh pendiri dan pembina MAI Sengkang sertya ulama pertama yang mempraktekkan pendidikan pondok pesantren dengan sistem klasikal, maka pada tanggal 25 Sya’ban 1372 H, yang bertepatan dengan tanggal 9 Mei 1953 murid-muridnya sepakat mengubah nama MAI Sengkang menjadi perguruan As’adiyah, suatu nama perguruan yang tidak sekedar mengabadikan nama K. H. Muh. As’ad tetapi juga nama perguruan yang mengandung harapan agar santri-santri yang belajar di perguruan ini dapat mewarisi ilmu dan kemasyhuran K. H. Muh. As’ad.
Setelah perubahan nama perguruan atau setelah K. H. Muh. As’ad wafat baru ada keberanian dari pengelola mendirikan cabang di luar kota Sengkang. Selain perluasan cabang ke beberapa daerah, juga perguruan As’adiyah mengalami perluasan jenjang pendidikan yang kini pengelola mulai dari tongkat Taman Kanak-kanak sampai pada tingkat perguruan Tinggi.


Sumber : DARUD DA’WAH WAL-IRSYAD (DDI) Dalam Simpul Sejarah Kebangkitan dan Perkembangan.

Berpindahnya sejumlah besar santri MAI Sengkang ke MAI Mangkoso cukup menjadi postfactum dari kekhawatiran  AGH Muh. As’ad jauh sebelumnya. Bahwa kepergian AGH Ambo Dalle pasti berpengaruh besar terhadap perkembangan MAI Sengkang. Tetapi AGH Muh. As’ad tetap pada pendiriannnya, tidak membenarkan adanya cabang MAI Sengkang yang dipimpinnya. Namun demikian, walaupun kedua MAI terpisah secara organisasi, tetapi kedua Kiai pimpinannya tidak bisa dipisahkan dalam relasi antara guru dengan murid, terutama kesamaan idealisme keduanya didalam membangun kehidupan beragama dalam masyarakat.
  Kehadiran penjajah Jepang di Indonesia ternyata merupakan penghalang bagi kemajuan madrasah tersebut. Semua lembaga pendidikan, utamanya lembaga pendidikan atau sekolah islam, berada dalam pengawasan Jepang.  Jepang berusaha menghambat dan membatasi semua langkahnya. Namun, Ambo Dalle tidak kehilangan siasat. Ia menyuruh para santrinya agar tidak belajar di kelas-kelas, tetapi di kolong-kolong rumah penduduk. Ternyata, cara ini justru mengundang peminat yang kian banyak. Baru setelah Jepang menyerah, Ambo Dalle berhasil melanjutkan cita-citanya, mendirikan Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) di Mangkoso.
 
Sukses Mendirikan dan mengembangkan MAI Mangkoso, AGH Ambo Dalle mulai mengepakkan sayap dan membuka cabang MAI Mangkoso diberbagai daerah. Tahun 1940-an tercatat cabang yang dibuka diantaranya di Bontobonto Pangkep, Baruga Majene, Pattojo Soppeng, Paria Wajo dan Kulo Sidrap.
 
Setelah kemerdekaan keadaan Sulawesi Selatan kian carut marut, dunia pendidikan terabaikan. Keadaan ini memperihatinkan sejumlah ulama di Sulawesi Selatan. AGH Ambo Dalle melihat ini sebagai  medan jihat yang baru. AGH Ambo Dalle kian intensif melakukan hubungan komunikasi dengan para kekerabatan dan para ulama yang pada umumnya murid-murid AGH Muh. As’ad yang telah menyebar di Sulawesi Selatan.
 
Atas prakarsa AGH Daud Ismail dan AGH Ambo Dalle serta dukunagn AGH M Abduh Pabbajah dan ulama lainya. Maka diadakanlah musyawarah alim ulama Ahlusunnah Wal Jama’ah se-Sulawesi Selatan di Watang Soppeng tahun 1947.
 
Dalam forum ini, terlihat kepiawaian AGH Ambo Dalle dalam meyakinkan para ulama yang hadir tentang pentingnya kehadiran sebuah organisasi, yang tidak saja berperan untuk mewadahi kegiatan MAI Mangkoso yang kian majemuk dan berkembang, tetapi lebih penting adalah oragnisasi tersebut dapat menyatukan visi dan potensi para ulama yang membenahi sektor pendidikan Islam yang tersaruk-saruk akibat perang berkepanjangan.




                                    MADRASAH ARABIYAH ISLAMITAH(MAI)
                     MADRASAH ARABITAH ISLAMIYAH(MAI) SENGKANG
Salah satu lembaga pendidikan tertua di Sulawesi Selatan yang di kenal luas di Indonesia adalahMadrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) di sengkang,kabupaten wajo,yang di dirikank bersetuju dengan bulan Zulkaidah 1348 H. yang bertepatan dengan bulan mei 1930 M. Oleh
K.H.muh as’ad yang baru saja kembali dari mekah adalah di madrasah Al-Falah.
Pada awal mulanya MAI sengkang hanya merupakan pengajian dengan sistem mengaji tu’dang yang di adakan di rumah K.H.muh.as’ad,yang oleh penduduk setempat dan murid-muridnya, hingga kini, menyebutnya anregurutta sade. Menyusuldengan santrinya yang semakin bertambah banyak, maka tempat mengajinnya pun di pindahkan ke mesjid jami,sengkang. Walaupun mengaji tu’dang masih berlanjit, seiring dengan berkembangnya jumlah santri yang tidak tertampung lag, maka didiranlahlembaga pendidikan madrasahdengan sistem klasikal yang oleh K.H.muh as’ad pengorganisasiannya di percayakan kepada  salah seorang ustaddan sekaligusmurid kepercaannya, yang kemudian juga  terkenaj sebagai ulama besar Indonesia  yang berasal dari Sulawesi Selatan, takni K H Abd Rahman Ambo Dalle.
Selama MAI Sengkang masih di bawah kepemimpinan k.h Muh As’ad tidak ada perluasan ekspansiWilayah .Beliau tidak membenarkan adanya pendirian madrasah MAI di tempat lain,   baik sebagai cabang maupun sebagai filiah.Dampak dari kebijakan ini adalah semua santri yang ingin memperoleh ilmu adri K.H. Muh As’ad harus dating ke sengkang dan mondok di MAI Sengkang.Hal ini di sebabkan oleh kekuatiran beliau akan sulitnya mengendalikan cabang-cabang menjaga standar mutu pendidikan ,dan nantinya akan mempengaruhi citra MAI Sengkang secara keseluruhan.Beliau tidak pernah khawatir akan kekurangan santri ,seandainya dibuka kesempatan mendirikan cabang atau filiah di luar Sengkang sekalipun.
Berkat pembinaan yang di lakukan oleh K.H.Muh As’ad , maka dari MAI Sengkang inilah lahir ulama sekaligus tokoh pendidikan Islam Sulawesi Selatan  yang  terkemuka ,seperti:K.H.Muhammad Daud Ismail, K.H.Muh Abduh Pabbajah,K.H.Muh Yunus Maratan, K.H.Muhammad YusufHamzah ,K.H. Abdul Muin Yusuf, K.H.Muhammad Amberi Said, K.H.Djunaid Sulaiman, K.H. Muhammad Amin Nashir, K.H.MarzukiHasan , dan tentunya K.H.Abdul Rahman Ambo Dalle.Kesemuanya adalah merupakan santri angkatanpertama dari K.H.Muh. As’ad.
Hanya saja ,pembinaan langsung yang di lakukan oleh K.H.Muh As’ad  kepada santri- santri  MAI Sengkang tidak begitu lama, karna tuhan telah memanggil beliuaketika beliua masih dalam usiayang relative mudah, 45 tahun. Beliua wafat pada hari senin, 12 rabiul akhir 1372 H. bertepatan dengan 29 desember 1952 M. atau dua tahun setelah Sulawesi selatan melepaskan diri dari pemerintahan Indonesia timur(NIT) buatan belanda bersama dengan wilaya-wilaya indonesialainnya melalui konferensi meja bundar di belanda pada bulan November-desember 1949, kecuali irian barat yang nanti diintegrasi repoblik Indonesia pada tahun 1962.
Untuk mengenang jasa-jasa K.H.muh.as’ad,tokoh pendiri dan pembinah MAI Sengkang serta ulama pertama yang memperatekkan pendidikan pondok pesantren dengan sistem klasikal, maka pada tanggal 25 Sya’ban 1372 H. yang bertepatan dengan tanggal 19 mei 1953 murid-muridnya bes=rsepakat mengubah nama MAI menjadi perguruan as’adiyah, suatu nama perguruan yang tidak sekedar mengabadikan nama K.H.Muh as’sd, tetapi juga suatu nama perguruan yang mengandung harapan agar santi-santri yang belajar di perguruan ini dapat mewarisi ilmu dan kemasyuran K.H.Muh.as’ad.
Setelah perubahan nama perguruan atau setelah K.H.Muh.as’ad wafat baru ada keberanian dari pengelola mendirikan cabang di luar kota sengkang. Selain perluasan cabang ke beberapa daerah, juga perguruan as’adiyah mengalami perluasan jenjang pendidikan, yang kini pengelola mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai pada tingkat perguruan tinggi.  
















BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan.
Berdasarkan dari uraian singkat makalah ini maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
DDI merupakan organisasi keagamaan yang bergerak dibidang pendidikan, da’wah, dan sosial kemasyarakatan. DDI didirikan oleh para ulama besar Sulawesi-Selatan dengan Gurutta K. H. Abdurrahman Ambo Dalle sebagai ketuanya, dibentuk pada tanggal 16 Rabiul Awal 1366 H / 7 Februari 1947 M dan Mangkoso sebagai pusat Organisasi. Pada tahun 1950 pusat organisasi dipindahkan dari Mangkoso ke Pare-pare karena Pare-pare dianggap tempat yang strategis untuk mengembangkan DDI.
B.   Saran/Harapan.
Sebagai generasi muda DDI, marilah kita mempertahankan dan mengembangkan konsistensi DDI di bumi nusantara bahkan sampai ke kancah percaturan organisasi dunia.
Minallahi Musta’an Wa Ilaihi Tiklan



















DAFTAR PUSTAKA
Al Fattah Hatta Muhammad. 20 Oktober 2008. AG H. Abdurrahman Ambo Dalle. My buku kuning Ambo Dalle center, http://guruttaambodalle.blogspot.com/2008/10/agh-abdurrahman-ambo-dalle.html. Diakses tanggal 03 Januari 2012.
Darisrajih. 10 April 2008. Panritta yang menembus semua zaman. Daris Rajih, http://mazharulhaqmattugengkeng.wordpress.com/2011/03/03/ambo-dalle-panrita-menembus-semua-zaman/. Diakses tanggal 03 Januari 2012.
Latif Abdul. 21 Oktober 20008. Menakar peran DDI ke depan. My buku kuning Gurutta Ambo Dalle center, http://guruttaambodalle.blogspot.com/2008/10/sejarah-kesadaran-sejarah.html. Diakses tanggal 03 Januari 2012.
Artikel non-personal. 12 Desember 2009. Isi & makna lambang DDI. Facebook, http://id-id.facebook.com/topic.php?uid=277860061050&topic=11971. Diakses tanggal 04 Januari 2012.
Artikel non-personal. 21 November 2007. Pengertian & definisi organisasi. Carapedia, http://carapedia.com/pengertian_definisi_organisasi_menurut_para_ahli_info484.html. Diakses 03 Januari 2012.
 

ads

Ditulis Oleh : Sudirman Suharto Hari: 08.39 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar