Kamis, 01 November 2012

PEMERINTAH MENCARI MODAL UNTUK MAHASISWA YG TIDAK MAMPU

ShutterstockIlustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah sedang mencari model kredit atau pinjaman tanpa bunga bagi mahasiswa tidak mampu. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan Tinggi tahun 2012. Hanya saja hingga kini belum ditemukan bentuk dan mekanisme yang ideal.

Pada masa Orde Baru, sudah ada Kredit Mahasiswa Indonesia (KMI). Kredit dicairkan saat mahasiswa menyelesaikan tugas akhir dan harus dikembalikan setelah lulus. Sebagai jaminan, ijazah sarjana ditahan.

”Namun, banyak penerima KMI yang kemudian tidak mengembalikan pinjaman,” kata Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Illah Sailah. Ia mengatakan hal itu dalam Seminar Memperluas Akses Pendidikan Tinggi Melalui Bantuan Finansial: Beasiswa dan Kredit Mahasiswa, Rabu (31/10), di Jakarta.

Kredit tidak dikembalikan, menurut Illah, karena banyak instansi yang menerima karyawan tanpa perlu menunjukkan ijazah. ”Banyak juga yang tidak bisa melunasi karena tidak bekerja,” kata Illah.

Untuk mengantisipasi agar tidak terulang kembali, perguruan tinggi harus selalu menjalin komunikasi intensif dengan mahasiswa agar bisa diketahui perkembangannya setelah lulus.

Alternatif lain yang diusulkan adalah menggunakan ikatan dinas sehingga cicilan kredit otomatis dipotong dari gaji.

”Bisa juga dengan mendorong kewirausahaan mahasiswa sehingga bisa mencicil selagi masih kuliah,” kata Illah.

Dalam diskusi, para peserta mengutarakan pengalaman praktik pemberian pinjaman tanpa bunga. Beberapa contoh perguruan tinggi yang sudah memiliki mekanisme pinjaman tanpa bunga bagi mahasiswa, antara lain, Politeknik Manufaktur Negeri Bandung, Politeknik Negeri Jakarta, Binus University, dan Politeknik Aceh.

Survei


Untuk memahami kebutuhan mahasiswa terhadap kredit, Higher Education Leadership and Management (HELM) membuat survei terhadap 2.000 mahasiswa di 71 perguruan tinggi negeri dan swasta (20 persen PTN BHMN). Hasil survei itu, antara lain, menunjukkan, sumber pendapatan mayoritas mahasiswa dari orangtua (88,16 persen) dan beasiswa (4,60 persen).

”Mayoritas mahasiswa tahu bahwa orangtua mereka sampai harus pinjam uang untuk membiayai kuliah anaknya,” kata konsultan HELM, Alex Usher.

Para orangtua harus meminjam, antara lain, dari saudara (32 persen), bank (28 persen), dan Pegadaian (13 persen).

Ketika ditanya kesediaan untuk memanfaatkan pinjaman tanpa bunga dari pemerintah, mayoritas mahasiswa ingin memanfaatkan pinjaman itu untuk membantu mengurangi beban orangtua. Bagi yang tidak bersedia memanfaatkan pinjaman itu, alasannya karena tak butuh pinjaman dan tidak suka berutang. ”Survei ini memang tidak sempurna, tetapi setidaknya memberi gambaran soal pinjaman,” kata Usher. (LUK)

ads

Ditulis Oleh : Sudirman Suharto Hari: 01.23 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar